Keluar flek. Sempat kaget karena untuk pertama kali sejak pasca nifas habis lahiran Bulan April 2017, akhirnya saya haid juga. Senang.
Selasa, 13 Februari 2018
Sekitar jam 13.00, saya merasakan nyeri perut hebat pada perut kiri bagian bawah. Keluar keringat dingin dan entahlah bagaimana cara menggambarkan rasa sakitnya. Rasa sakit ketika kontraksi melahirkan rasanya gak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit kali ini. Yup, sakitnya kontraksi dulu, meski rasnaya juga luar biasa, tapi setidaknya ada jeda, tiap 3-4 menit sakit terus berhenti, 3-4 menit kemudian sakit lagi, terus berhenti (begitu seterusnya). Setidaknya ada menit-menit ketika saya bisa bernapas lega tanpa kesakitan, bahkan disela-sela kontraksi dulu saya bisa tidur lelap dan mimpi indah ^_^. Akan tetapi, sakit yang saya rasakan kali ini luar biasa, rasanya saya tidak ingin mengingatnya :(.
Saya hanya terbaring di tempat tidur dengan posisi telungkup menahan sakit. Saya konsumsi asam mefenamat, tapi nyerinya tak berkurang sedikitpun. Akhirnya Ibu saya memanggil adik ipar yang merupakan seorang bidan. Dia "meresepkan" obat pereda nyeri yang dimasukkan lewat an*s. Berharap rasa sakit itu hilang atau setidaknya berkurang. 1 menit, 5 menit, 10 menit berlalu. Rasa sakit itu tak kunjung hilang ataupun berkurang. Kembali atas petunjuk adik ipar saya-pun menambah dosisnya. Alhamdulillah beberapa menit kemudian saya merasa sedikit lega, walau rasa sakitnya gak hilang tapi lumayan berkurang.
Karena saya tinggal di kota kecil tepian air, gak ada klinik atau Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang buka 24 jam disini. Sayapun harus bersabar menunggu hari mulai gelap untuk memeriksakan diri di tempat praktik dokter spesialis Obgyn (dsog) sambil terus menahan sakit. Pilihan dokternyapun tak banyak, hanya 3 orang dan dari 3 orang tersebut hanya 1 orang dsog perempuan. Tentu saya akan memprioritaskan ditangani dsog perempuan. Ditemani suami, ibu dan saudara, sayapun mendatangi tempat praktek dsog perempuan tersebut. Setelah selesai di USG, dokter menduga bahwa saya mengalami kehamilan di luar kandungan. Karena tidak yakin, saya mencari second opinion ke dsog lainnya. Setelah saya cerita hasil diagnosis dsog pertama, dsog tersebut hanya berkomentar "Ya kalau memang seperti itu diagnosisnya ya mungkin memang hamil di luar kandungan".
Sebenarnya saya rada kecewa dengan komentar dokter tersebut, harapan saya diberi rekomendasi apa gitu namun ga ada. Dari dsog pertama dan kedua, saya diberi obat.
Jum'at, 16 Februari 2018
Perut saya kembali nyeri hebat. Bergegas saya periksa kembali ke dsog pertama dan saya disarankan untuk langsung ke IGD rumah sakit. Di rumah sakit kembali diberi obat pereda nyeri namun rasa nerinya tidak berkurang sedikitpun. Setelah beberapa kali ditambah dosisnya barulah saya merasa nyerinya sedikit berkurang.
Perut saya kembali nyeri hebat. Bergegas saya periksa kembali ke dsog pertama dan saya disarankan untuk langsung ke IGD rumah sakit. Di rumah sakit kembali diberi obat pereda nyeri namun rasa nerinya tidak berkurang sedikitpun. Setelah beberapa kali ditambah dosisnya barulah saya merasa nyerinya sedikit berkurang.
Keesokan harinya, dsog ketiga melakukan pemeriksaan USG "Ga ada tanda-tanda hamil luar kandungan, tapi mba mengalami kehamilan BO, janinnya tidak berkembang" kemudian saya diperlihatkan layar monitor hasil USG nya. Tampak sebuah calon janin yang memang tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Dokter menyarankan untuk meminum obat, katanya coba aja ditunggu beberapa hari apakah ada perubahan atau mungkin nanti ada tanda-tanda kehidupan jadi dipertahankan dulu kehamilannya. Namun keesokan harinya saya tetap merasakan nyeri dan akhirnya dokter memutuskan untuk di Kuret.
Senin, 19 Februari 2018
Jadwal kuret ditetapkan, selama dikuret saya dibius total. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

