Thursday, April 30, 2026

Perjuangan Saya Melawan Rasa Takut untuk Berbicara Di Depan Umum (Part 1)

Berdiri di hadapan banyak orang sambil memegang mic. Menatap peserta yang hening, menunggu saya untuk bersuara adalah salah satu hal horor yang selalu ingin saya hindari seumur hidup saya. Sejak usia sekolah saya selalu merasa rendah diri, saya bukanlah murid yang menonjol karena memang tidak suka menonjolkan diri serta sangat kaku dalam bergaul. Saya sering di-label-i anak yang minder oleh orang-orang di sekitar saya. Karena memang lebih sering mengasingkan diri dan selalu takut untuk tampil di depan banyak orang, termasuk berdiri di depan kelas untuk prsentasi atau sekedar dipanggil untuk tugas hafalan.

Hal ini terus berlanjut hingga saya jadi mahasiswa bahkan sampai lanjut ke jenjang S-2. Kebayang ga? betapa beratnya hidup saya selama jadi mahasiswa. Apalagi ketika kuliah, saya ambil jurusan Kesehatan Masyarakat, yang mahasiswa-mahsiswanya dipersiapkan untuk menjadi seorang penyuluh kesehatan. Tugas-tugasnya kebanyakan tugas kelompok yang harus dipresentasikan di depan kelas. Teringat seorang teman SMP yang gak terlalu dekat dengan saya, tiba-tiba nelpon cuma mau bilang "Kamu gak salah kuliah jurusan FKM? Kamukan gak berani ngomong depan orang?" Apaan sih, nelpon gak ada angin ga ada ujan, cuma buat ngomong itu, merasa kesal telponnya langsung saya matikan. Terlalu fakta 😂

Sampai suatu saat, ketika ujian Tesis. Kata-kata dosen penguji saya yang merupakan seorang Psikolog menyadarkan saya " Mba, kamu itu bentar lagi akan lulus dan akan terjun langsung ke Masyarakat. Kamu akan membawa nama almamater tempat kamu kuliah sekarang. Kamu harus jadi orang yang percaya diri, ..." lumayan panjang nasihatnya tapi seperti itu intinya.

Setelah lulus kuliah, qadarullah sehari setelah wisuda saya melahirkan anak pertama. Kesibukan sebagai "new-mom" membuat saya menghapus keinginan untuk bekerja, disamping saya memang bingung mau kerja apa. Meski lulusan S-2 dari salah satu kampus favorit yang ada di Jogja, saya tetap merasa rendah diri, merasa tidak memiliki skill apapun yang bisa saya "jual" di tempat kerja. Paling kalau mau ngandelin ijazah S-2 ya jadi dosen. Tapi dosen kan kerjaannya ngomong depan mahasiswa-mahasiswanya... Taaakuuuttt 😁

Singkat cerita, kehidupan rumah tangga saya sampailah pada fase diuji dengan berbagai ujian, salah satunya ujian ekonomi. Suami resign dari kerjaan, dan saya melahirkan anak kedua. Kondisi psikis yang tidak baik-baik saja membuat saya sedikit terguncang. Mungkin ada hubungannya juga dengan "baby blues" atau Depresi Pasca Melahirkan. tapi saya gak akan menceritakan bagian ini. Saat itu, saya merasa punya banyak masalah dengan orang-orang di sekitar saya dan tentu saja tanpa kecuali dengan suami dan orang tua..... Saya merasa sangat lelah dan ingin keluar dari rutinitas sebagai Ibu Rumah Tangga. (BTW apa nih hubungannya dengan judul "Melawan Rasa Takut untuk Berbicara Di Depan Umum"? --- Sabar.. Mari kita lanjut).

Akhirnya, saya mulai "menata diri" saya. Mau sampaia kapan hidup saya kayak gini? apalagi sudah punya anak dua, bagaimana nasib mereka kelak? Saya mulai mencari tahu, kira-kira saya ingin jadi orang yang seperti apa di masa yang akan datang? saya mulai berpikir untuk dan harus bekerja. "Saya harus turun gunung". Saya mulai berpikir Dan saya mulai berpikir tentang goal karir saya nanti apa ya kira-kira yang bisa saya gapai? hmm orang tua saya di kampung halaman punya yayasan pendidikan yang menaungi beberapa sekolah. Meski masih merintis, kayaknya saya bisa membantu ibu saya untuk memajukan yayasan tersebut. Oke goal telah ditetapkan... Pulang kampung halaman, mengajar di sekolah emak. Setidaknya saya gak perlu lamar-lamar kerja kesana-kemari yang memang kecil kemungkinan bakal diterima (limiting beliefs saya ngomong gitu).

Setelah menetapkan goal, saya mulai memetakan hal-hal apa saja yang saya butuhkan untuk mencapai goal tersebut? Dan hal pertama kali yang terlintas di pikiran saya adalah "Public Speaking". Yup, kemampuan berkomunikasi/berbicara di depan banyak orang. Namanya juga mau jadi guru, ye kan?

Wednesday, July 23, 2025

Pengalaman pernah mengalami Kehamilan BO (Blighted Ovum)

Senin, 12 Februari 2018

Keluar flek. Sempat kaget karena untuk pertama kali sejak pasca nifas habis lahiran Bulan April 2017, akhirnya saya haid juga. Senang.

Selasa, 13 Februari 2018

Sekitar jam 13.00, saya merasakan nyeri perut hebat pada perut kiri bagian bawah. Keluar keringat dingin dan entahlah bagaimana cara menggambarkan rasa sakitnya.  Rasa sakit ketika kontraksi melahirkan rasanya gak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit kali ini. Yup, sakitnya kontraksi dulu, meski rasnaya juga luar biasa, tapi setidaknya ada jeda, tiap 3-4 menit sakit terus berhenti, 3-4 menit kemudian sakit lagi, terus berhenti (begitu seterusnya). Setidaknya ada menit-menit ketika saya bisa bernapas lega tanpa kesakitan, bahkan disela-sela kontraksi dulu saya bisa tidur lelap dan mimpi indah ^_^. Akan tetapi, sakit yang saya rasakan kali ini luar biasa, rasanya saya tidak ingin mengingatnya :(.

Saya hanya terbaring di tempat tidur dengan posisi telungkup menahan sakit. Saya konsumsi asam mefenamat, tapi nyerinya tak berkurang sedikitpun. Akhirnya Ibu saya memanggil adik ipar yang merupakan seorang bidan. Dia "meresepkan" obat pereda nyeri yang dimasukkan lewat an*s. Berharap rasa sakit itu hilang atau setidaknya berkurang. 1 menit, 5 menit, 10 menit berlalu. Rasa sakit itu tak kunjung hilang ataupun berkurang. Kembali atas petunjuk adik ipar saya-pun menambah dosisnya. Alhamdulillah beberapa menit kemudian saya merasa sedikit lega, walau rasa sakitnya gak hilang tapi lumayan berkurang.

Karena saya tinggal di kota kecil tepian air, gak ada klinik atau Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang buka  24 jam disini. Sayapun harus bersabar menunggu hari mulai gelap untuk memeriksakan diri di tempat praktik dokter spesialis Obgyn (dsog) sambil terus menahan sakit. Pilihan dokternyapun tak banyak, hanya 3 orang dan dari 3 orang tersebut hanya 1 orang dsog perempuan. Tentu saya akan memprioritaskan ditangani dsog perempuan. Ditemani suami, ibu dan saudara, sayapun mendatangi tempat praktek dsog perempuan tersebut. Setelah selesai di USG, dokter menduga bahwa saya mengalami kehamilan di luar kandungan. Karena tidak yakin, saya mencari second opinion ke dsog lainnya. Setelah saya cerita hasil diagnosis dsog pertama, dsog tersebut hanya berkomentar "Ya kalau memang seperti itu diagnosisnya ya mungkin memang hamil di luar kandungan".

Sebenarnya saya rada kecewa dengan komentar dokter tersebut, harapan saya diberi rekomendasi apa gitu namun ga ada. Dari dsog pertama dan kedua, saya diberi obat. 

Jum'at, 16 Februari 2018

Perut saya kembali nyeri hebat. Bergegas saya periksa kembali ke dsog pertama dan saya disarankan untuk langsung ke IGD rumah sakit. Di rumah sakit kembali diberi obat pereda nyeri namun rasa nerinya tidak berkurang sedikitpun. Setelah beberapa kali ditambah dosisnya barulah saya merasa nyerinya sedikit berkurang. 

Keesokan harinya, dsog ketiga melakukan pemeriksaan USG "Ga ada tanda-tanda hamil luar kandungan, tapi mba mengalami kehamilan BO, janinnya tidak berkembang" kemudian saya diperlihatkan layar monitor hasil USG nya. Tampak sebuah calon janin yang memang tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Dokter menyarankan untuk meminum obat, katanya coba aja ditunggu beberapa hari apakah ada perubahan atau mungkin nanti ada tanda-tanda kehidupan jadi dipertahankan dulu kehamilannya. Namun keesokan harinya saya tetap merasakan nyeri dan akhirnya dokter memutuskan untuk di Kuret.

Senin, 19 Februari 2018
Jadwal kuret ditetapkan, selama dikuret saya dibius total. Alhamdulillah semua berjalan lancar.


Sunday, October 31, 2021

Birrul-walidain

"Birrul-walidain" seringkali dijadikan alat oleh orang tua untuk memuaskan ego dan ambisi mereka serta mengekang jiwa anak-anak mereka.

Friday, December 25, 2020

The same story

Seperti sebelum-sebelumnya. Pada akhirnya mereka akan menyalahkanku atas ketidak-mampuanku mengendalikan pikiranku. Aku tak akan berharap lagi, setidaknya sudah berusaha.

Saturday, June 23, 2018

Ramadhan, Moment untuk Berhijrah

Alhamdulillah, masih bisa bercengkerama dengan ramadhan. Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan yang spesial karena sebulan full di rumah dengan keluarga tercinta, dan setelah ramadhan akan ada ritual "buang sial" =)). Berbagai resolusi telah dicanangkan baik yang berskala kecil ataupun yang berskala besar, resolusi jangka pendek dan jangka panjang.

Ramadhan, 2014 M

Wednesday, June 21, 2017

P.U.L.A.N.G

Sebenarnya aku memiliki banyak alasan untuk tidak pulang, namun apalah arti alasan yang bejibun tersebut jika hanya dilandasi dari kebencian, ke-egoisan, dan kenangan-kenangan buruk. Hanya karena satu alasan, aku harus mendepak segunung alasan-alasan sebelumnya...

Sunday, February 5, 2017

UK 28 W

Dari remaja paling parno dengan kata "melahirkan". Makanya pas awal2 tau kalo saya hamil, badan langsung gemetaran sampai-sampai gigi ber-gemerutuk saking gemetarnya. Walau di lain pihak ya ada rasa senangnya juga karena rasa khawatir kalau-kalau mandul terbantahkan hmmm...

Seiring berjalannya waktu, rasa parno itu kian berganti dengan rasa bahagia tiap kali merasa tendangan si calon debay yang makin hari makin kuat aja tendangannya. Rasa takjub terpana, bahagia, harapan, dan kerinduan yang mendalan 😆ah tak bisa diungkapkan dengan kata2 lah...


Wednesday, January 6, 2016

Dear Father...

                                                                      Sumber: www.nuclearblast.de

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melingkupi rahmat-Nya, mengampuni semua dosa, dan menerima semua amal ibadah Teta selama di dunia dan semoga kita semua dikumpulkan di jannah-Nya. Aamiin Ya Rabb.

Template by:

Free Blog Templates